Senin, 18 April 2016

eling mergo lali. lali mergo eling



UNTUK APA
NYAMUK DICIPTAKAN?

Hampir dapat dipastikan semua orang pernah digigit nyamuk. Sejak zaman dahulu hewan mungil ini telah mencatat prestasi gemilang sebagai “pengganggu manusia”. Hewan inilah yang diriwayatkan sebagai pelaku utama sebab remuknya tempurung kepala Raja Namrud zaman Nabi Ibrahimu. Hewan jenis serangga ini pula yang dituduh bertanggung jawab atas kematian ribuan manusia di seantero dunia akibat malaria. Hewan ini pula yang menjadi tersangka utama penyebab merebaknya “wabah nasional” di berbagai negara, yaitu demam berdarah.
Inilah hewan yang walau matanya rabun, tapi sepak terjangnya telah menggegerkan manusia. Sehingga beberapa negara menyatakan “perang besar-besaran” terhadap hewan ini. Dengan menurunkan sejumlah menteri yang menjadi panglima perangnya, mereka mengadakan perlawanan habis-habisan terhadap nyamuk. Bagai perangnya si raksasa versus liliput.
Bahkan berbagai badan kesehatan dunia turut pontang-panting dalam perang global melawan hewan berbelalai ini. Dana dalam jumlah besar dikucurkan untuk membangun pabrik-pabrik pembasmi nyamuk. Ribuan tenaga kerja dikerahkan. Jaringan pemasaran dan periklanan dirancang sehingga menjangkau masyarakat dari pusat perkotaan sampai kampung pedalaman di pucuk gunung. Poster-poster dan spanduk dipasang untuk memberi peringatan. Dan anak-anak kecil pun harus cepat-cepat tidur, karena orang tuanya mengatakan, “kalau tidak tidur digigit nyamuk.”
Namun sejarah mencatat, usaha manusia untuk menumpas makhluk imut-imut ini selalu berujung dengan kegagalan. Ada pelajaran apa bagi manusia di balik fenomena makhluk kecil ini? Untuk inilah kiranya Alloh berfirman:
إِنَّ اللهَ لاَ يَسْتَحْيِي أَن يَضْرِبَ مَثَلاً مَّا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُواْ فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِن رَّبِّهِمْ وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُواْ فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللهُ بِهَـذَا مَثَلاً يُضِلُّ بِهِ كَثِيراً وَيَهْدِي بِهِ كَثِيراً وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلاَّ الْفَاسِقِينَ (البقرة 26)
“Sesungguhnya, Alloh tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan, ‘Apakah maksud AllohI menjadikan ini untuk perumpamaan?’ Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Alloh, dan dengan perumpamaan itu (pula), banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Alloh kecuali orang-orang yang fasik.” (Q.S. Al-Baqarah: 26)
Ahli Pengeboran yang Ulung
Ketika digigit nyamuk, kita menyangka bahwa nyamuk telah menggunakan gigi-giginya untuk melukai kulit, lalu menghisap darah kita. Atau mungkin ada yang beranggapan saat itu sang nyamuk menusukkan belalainya dengan paksa ke pori-pori kulit untuk menghisap darah kita.    
Semua anggapan di atas ternyata salah total. Nyamuk ternyata memiliki teknik menghisap darah yang sangat mengagumkan. Alloh menciptakan struktur tubuh nyamuk dengan sangat luar biasa. Kombinasi bentuk rahang atas dan rahang bawah yang khas, serta belalai dan proses metabolisme dalam tubuhnya, dengan sempurna mendukung makhluk kecil ini untuk menjadi "penghisap darah" yang ulung.
Sesaat setelah mendarat di permukaan tubuh kita, dengan menggunakan rahangnya nyamuk memulai proses penghisapan darah. Rahang atas nyamuk berbentuk pipih dan runcing setajam pisau, sementara rahang bawahnya berbentuk seperti mata gergaji yang membengkok ke belakang. Pertama kali, nyamuk akan menggerakkan kedua rahangnya maju mundur secara cepat pada permukaan kulit kita. Rahang atasnya membuat sayatan lalu diiringi dengan rahang bawahnya bergerak maju mundur melakukan "pengeboran". Proses pengeboran ini dilakukan sampai mencapai pembuluh darah. Setelah mampu melukai pembuluh darah, sekarang waktunya untuk menikmati segarnya darah. Melalui irisan tadi belalai disisipkan untuk menghisap darah.


Rabu, 02 Maret 2016

penjahat

          Seorang pemuda duduk di trotoar jalan meminta-minta sedekah dari orang-orang yang lewat. Pemuda itu bertubuh kekar dan tinggi besar, namun lemah dan lemas karena lapar.di jalan itu ia duduk sambil menengadakan kedua tangannya, meminta pada orang yang lalu lalang, memohon dengan sangat kemurahan hati mereka, dan meratapi nasib,dan menangis didera pedih perih perut kerana lapar.
     
          Malam telah larut dalam gelap, bibirnya telah kering dan lidahnya menjadi kelu dan tangan serta perutnya kosong melompong.
          Ia beranjak dan pergi ke luar kota dan duduk di bawah pepohonan serta meratap dengan ratapan yang getir. Ia menengadahkan matanya yang berkaca-kaca ke atas dan mengadukan kelaparannya, sambil berujar," Ya Alloh,, aku telah mendatangi si kaya untuk mencari kerja namun mereka melengos lantaran pakaianku yang compang-camping. Telah kuketuk pintu rumah sekolah dan mereka melarangku masuk karena tanganku hampa. Kucari pekerjaan demi nafkah sehari-hari tapi orang menolakku karena nasibku bertentangan dengan diriku. Maka, aku pun mengemis.

         "Mereka yang menyembah engkau, wahai Tuhan, memandang diriku dan berkata orang ini kuat dan mampu, sedang belas kasihan bukan untuk mereka yang lamban dan malas. Ibuku melahirkanku atas iradat-Mu, karena Engkau pula aku ada. Mengapa orang meniadakan bagiku rezeki yang kucari atas nama-Mu?"

        Dan, seketika itu pula air permukaannya berubah. Dia bangkit berdiri dan matanya nyalang bagai bintang cerlang. Lalu, dari cabang pohon yang mengering dibuatnya tongkat berat. Diacungkannya ke arah kota dan berteriak, "aku mencari nafkah dengan peluh keningku namun tiada mendapatkannya. Kini, aku akan mengambilnya dengan kekuatan tangan besiku. Telah kuminta roti atas nama cinta, namun tak seorang pun mendengar diriku. Kini, aku akan mencarinya atas kejahatan..."

        Tahun demi tahun berlalu dan pemuda itu memenggal leher insan demi kepentingan perhiasannya dan merusak tubuh demi memuaskan nafsu makannya. Dia bertambah kaya dan tersohor karena kekuatan dan kebengisannya. Dia dicintai di kalangan perampok namun ditakuti oleh mereka yang mematuhi hukum. Suatu hari penguasa negeri mengangkatnya sebagai wakil di kota itu, dengan cara itu semua pangeran yang mereka pilih berbicara atas namanya.

        Demikianlah, orang bersama ketamakannya telah melahirkan dan dengan kekerasannya merangsang anak yang baik itu untuk membunuh.